Tampilkan postingan dengan label kumpulan makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kumpulan makalah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Juni 2013

Tantrayana,Mantrayana dan Vajrayana


 TantraYana, Mantrayana dan Vajrayana
oleh 
Alimansyur Muhamad 
(pebandingan Agama semester IV)
Pendahuluan
Pada mulanya, sebenarnya Budha bukanlah nama orang, melainkan suatu gelar. Nama pendiri agama Budha yang di dapatnya dari orang tuanya ialah Sidharta (artinya yang mencapai maksud tujuannya). Tapi biasanya ia disebut Gautama, karena sanak keluarganya menganggap dirinya sebagai keturunan Guru Weda Gautama. Acap kali ia disebut juga Shakyamuni (yakni rahib atau yang bijaksana dari kaum Shakya) dan Shakya Sinha (yakni singa dari kaum Shakya), karena ia termasuk golongan Kesatriya keturunan Shakya.
Fakta sejarah yang menyangkut kehidupan Sidharta Gautama sebagai manusia telah tercampur oleh berbagai legenda yang sebagian besar ditambahkan setelah beliau wafat. Legenda-legenda itu telah dibeberkan secara lisan oleh orang India jauh hari sebelum kelahiran Sidharta Gautama itu sendiri. Cerita-cerita itu digunakan untuk menyampaikan pemahaman yang religius, etika dan tugas-tugas sosial.[1]

Budhha Sangha


Buddha Sangha
Oleh : Mylinda
A.    Pendahuluan
Agama Budha disebut mempunyai pengaruh besar di Indonesia sebab agama budha merupakan agama yang paling awal tersebar di Indonesia setelah agama hindhu. Agama budha muncul sekitar abad ke 6 SM,sebagai reaksi terhadap agama hindu yang dianggap terlalu kaku. Istilah Budha berarti “Budhh” yang artinya bangkit, dan kata kerja “Bujjhati” yang berarti memperoleh pencerahan.
Umat Budha tidak memerlukan upacara persembahan atau pemujaan kepada para Dewa (Tuhan) tetapi mereka cukup melakukan Hasta Arya Marga. Berbeda dari agama yang lainnya agama Budha lebih mengutamakan penganutnya untuk berbuat (karma) membebaskan diri masing-masing dari dukkha untuk mencapai nirwana. Penyebab dari dukkha itu sendiri adalah keinginan (tanha) dan ketidaktahuan (avijja). Untuk dapat terbebas dari dukkha tersebut maka sesorang harus bisa melenyapkan/memadamkan keinginan yang terbelunggu didalam dirinya dengan melaksanakan Salah satu dari delapan jalan untuk melenyapkan penderitaan yaitu dengan melaksanakan sila (salah satunya dengan cara menjadi anggota sangha). Untuk dapat menjadi seorang sangha harus melalui beberapa tahapan-tahapan dan mematuhi dasa sila agama Buddha, selain itu juga terdapat beberapa tingkat kesucian yang harus dicapai bagi kelompok buddha sangha. Namun dilihat dari segi kelembagaan umat Budha dapat dibedakan dalam dua kelompok yaitu kelompok Wihara (Bihara) atau Sangha dan kelompok penganut agama yang awam.[1]

revisi Mahayana dan Hinayana



MAHAYANA DAN HINAYANA
Dosen Pembimbing : Hj.Siti Nadroh, M.Ag
Di susun oleh :
Agus Rizky Nurhuda
( 1111032100060 )
Pendahuluan
            Di dalam setiap agama pasti memiliki berbagai macam teka-teki keagamaan yang di anggap sangat mencolok, sebagai mana agama adalah pedoman bagi manusia untuk mejalani kehidupan sesuai kodrati manusia, karena dengan agama manusia akan memiliki pandangan yang tepat untuk kemana dia hidup dan bagaimana dia hidup

kumpulan responding paper


KUMPULAN RESPONDING PAPER AGAMA BUDDHA
Dosen Pembimbing:
Hj. Siti Nadroh, M.Ag
Dissusun Oleh
Diana Puspasari    (1111032100046)

JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2013
Keyakinan Terhadap Hukum Kasunyataan

A.      Pengertian Hukum Kasunyataan
Kasunyataan (Sacca) berarti apa yang sesungguhnya. Dalam bahasa Sansekerta disebut Satya artinya fakta yang tidak dapat dibantah.[1]Hukum Kasunyataan berarti hukum abadi yang berlaku dimana-mana, mengatasi waktu dan tempat serta keadaan. Ini berarti bahwa hukum Kasunyataan bersifat kekal dan abadi sepanjang masa yang berlaku di semua tempat, didalam semua keadaan di setiap waktu. Kasunyataan yang dibuat oleh sesuatu yang kekal dan abadi yaitu Sanghyang Adi Budha. [2]

Rabu, 05 Juni 2013

Pengertian Buddha, Dharma, dan Triratna.


Oleh:
Annisa Khalida (1111032100047)
Pendahuluan
Buddha yang kita kenal dalam sejarah adalah merupakan pancaran ke bawah dari sang Hyang Adhi Buddha yang bertugas untuk menyebarkan agama Buddha baik di dunia maupun di alam lainnya, untuk membebaskan batin manusia dan para makhluk lainnya dari segala bentuk malapetaka.[1] Ajaran yang disampaikan kepada manusia oleh Buddha sangat erat hubungannya dengan agama-agama yang ada sebelumnya, oleh karena itu ajaran Buddha merupakan faham yang bertujuan untuk mereform atau memperbarui ajaran Hinduisme dimana pendeta-pendetanya saat itu sangat berperan dalam kehidupan masyarakat. Ajaran Buddha mengandung background social-religius pada saat itu. Nama Buddha itu sendiri menunjukan arti “seorang yang bangun atau yang disadarkan” untuk mengadakan reformasi tradisi agama yang telah ada.[2]
Menurut para ahli Barat, Budha Gautama , pendiri agama Budha lahir pada 563 s.M dan wafat pada tahun 483 s.M ia adalah anak dari raja Suddhodana, yang memerintah atas suku Sakya, maka dari itu Budha Gautama juga dikenal dengan sebutan Sang Budha Sakyamuni, karena berasal dari suku Sakya. Ibunya bernama Maya, ia dibesarkan di ibukota kerajaan, yaitu Kapilawastu. Ia dibesarkan oleh orang tuanya yang beragama Hindu, pada masa kelahiran Sang Budha masyarakat yang ada di India yang beragama Hindu terbagi kedalam empat Vanna (kasta), yaitu Khattiya (raja dan keluarganya yang memegang pemerintahan), Brahmana (bertugas dalam upacara dan pendidikan), Vessa atau pedagang (termasuk petani dan tukang ahli), serta Sudra (para pekerja).